Wednesday, November 16, 2011

Seni Rupa Terapan


 Seni rupa terapan adalah hasil karya seni rupa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan mempunyai fungsi atau manfaat. Fungsi karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi estetis dan fungsi praktis.

Selain itu kaya seni rupa terapan juga dibedakan menjadi 3, yaitu hasil karya ukiran, hasil karya patung, dan hasil karya batik.
  • Menurut hasil karya ukiran, contoh benda-bendanya adalah ukiran kayu dari Jepara dan ukiran kayu dari Bali.
  • Menurut hasil karya patung, contoh benda-bendanya adalah patung kayu dari suku Asmat, patung batu Pangeran Diponegoro, dan Patung kayu dari Bali.
  • Menurut hasil karya batik, contoh benda-bendanya adalah baju, sprei, kain, dan gorden .
Seni rupa terapan adalah hasil karya yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
Seni rupa memiliki manfaat.
Fungsi karya seni rupa dapat dibedakan menjadi 2 yaitu Fungsi etestis dan fungsi praktis.
1. Fungsi etestis adalah untuk memenuhi kehidupan hidup tentang rasa  keindahan.  
    Misalnya lukisan,patung dan benda hias lainnya.
2. Fungsi praktis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan benda
     pakai. Misalnya vas bunga, kursi ukir, dan bingkai foto.
Perabotan lainnya yang dihiasi ukiran adalah contoh-contoh dari hasil karya seni rupa terapan. Banyak di Indonesia membuat karya seni terapan berupa karya ukiran.


 

 

Uniknya seni rupa terapan

Seni budaya adalah seni yang terdapat dalam budaya kita masing - masing salah satunya seni rupa terapan yang ada di Nusantara dan di daerah. Dan ternyata ada juga keunikannya yaitu :

1. Keunikan Seni rupa terapan di daerah setempat:
Yaitu karya seni rupanya tersebar sendiri - sendiri.hal ini terlihat dari adanya ragam                hias yang diterapkan pada busana adat dan rumah adat di masing - masing daerah.

2. Keunikan seni rupa terapan Nusantara:
Karya Nusantara akan kesenian dan kebudayaan. upaya mengungkap keragaman seni rupa. masing - masing daerah tidak dapat dipisahkan dari pegungkapan kebudayaan Nusantara.


  








KEUNIKAN GAGASAN DAN TEKNIK
DALAM KARYA SENI TERAPAN DAERAH SETEMPAT

Karakteristik Seni Rupa dan Cabang-cabangnya
Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya.
Karya seni rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu: karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, relief dan sebagainya. Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, atau karya yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh : seni patung, seni kriya, seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.
Seni Rupa jika dilihat dari segi fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni murni (fine art) dan seni pakai / terapan (applied art). Seni murni adalah karya seni rupa yang dibuat semata-mata untuk memenuhi kebutuhan artistik. Orang mencipta karya seni murni umumnya berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan cita rasa estetik. Kebebasan berekspresi dalam seni murni sangat diutamakan. Yang tergolong dalam seni murni yaitu: seni lukis, seni patung, seni grafis dan sebagian seni kerajinan.
Seni Terapan atau seni pakai (applied art) adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Contoh seni terapan yaitu:arsitektur, poster, keramik, baju, sepatu, dan lain-lain. Dalam pembuatan seni pakai biasanya faktor kegunaan lebih diutamakan daripada faktor keindahan atau artistiknya. Membuat karya seni terapan tampak lebih sulit dibandingkan karya seni murni. Hal itu mungkin karena membuat karya seni murni terasa lebih bebas dibanding membuat karya seni terapan karena tidak memperhitungkan fungsi. Akan tetapi sering pula terjadi sebaliknya, melukis bisa lebih sulit daripada membuat rumah tinggal.

Fungsi dan Tujuan Seni Rupa
Sebagai unsur budaya, seni hadir atau diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik lahir maupun batin. Sebuah unsur budaya akan tetap terpelihara keberadaannya jika unsur budaya tersebut masih berfungsi dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan betapa kita sangat membutuhkan sarana berekspresi dalam menikmati keindahan bentuk.




Berdasarkan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan manusia, seni dipilah menjadi beberapa kelompok yaitu :
1. Fungsi Individual
Manusia terdiri dari unsur fisik dan psikis. Salah satu unsur psikis adalah emosi. Maka fungsi individual ini dibagi menjadi fungsi fisik dan fungsi emosi.
a. Fisik
Fungsi ini banyak dipenuhi melalui seni pakai yang berhubungan dengan fisik, seperti; busana, perabot, rumah alat transportasi dan sebagainya.
b. Emosional
Fungsi ini dipenuhi melalui seni murni, baik dari senimannya maupun dari pengamat atau konsumennya. Contoh: lukisan, patung, film dan sebagainya.
2. Fungsi Sosial
Fungsi sosial artinya dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak dalam waktu relative bersamaan. Fungsi ini dikelompokkan dalam beberapa bidang.
a. Rekreasi / hiburan
Seni dapat digunakan sebagai sarana untuk melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan. Contoh: film, komedi, tempat rekreasi dan sebagainya.
b. Komunikasi
Seni dapat digunakan untuk mengkomunikan sesuatu seperti pesan, kritik, kebijakan, gagasan, dan produk kepada orang banyak. Contoh: iklan, poster, spanduk, dan lain-lain.
c. Edukasi / Pendidikan
Pendidikan juga memanfaatkan seni sebagai sarana penunjangnya, contoh; gambar ilustrasi pada buku pelajaran, poster ilmiah, foto dan sebagainya.
d. Religi / Keagamaan
Karya seni dapat dijadikan ciri atau pesan keagamaan. Contohnya; kaligrafi, arsitektur tempat ibadah, busana keagamaan dan sebagainya.

Seni Rupa Terapan Daerah Setempat
1. Seni Bangun / Arsitektur
Seni bangun merupakan salah satu hasil budaya masyarakat. Masyarakat Nusantara membuat bangunan dalam berbagai fungsi, yaitu tempat tinggal, lumbung padi, dan tempat beribadah. Di Jawa Tengah terdapat rumah Joglo yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sekaligus menjadi ciri khas budaya masyarakatnya. Demikian pula dengan masjid Demak yang struktur bangunannya sangat dekat dengan struktur rumah joglo.


2. Pakaian Adat
Pengaruh budaya setempat juga sangat terlihat pada pakaian adat. Pada masa sekarang busana adat Jawa Tengah sering kita lihat pada upacara-upacara perkawinan Di Jawa Tengah pakaian adat menjadi pakaian resmi yang terpengaruh dari kalangan istana yang biasa digunakan untuk upacara kerajaaan atau upacara-upacara Keraton. Misalnya pada busana kenegaraan abdi dalem yang mengiringi kereta kuda Sultan Yogyakarta dan Surakarta dalam iring-iringan upacara. Busana tersebut berupa kaos kaki sutera, sepatu, gesper, dan jas beludru yang dihiasi dengan jalinan berpita emas. Busana adat Jawa Tengah mendapat pengaruh dari Eropa pada era Kolonial Belanda.
3. Wayang
Pertunjukan wayang di Indonesia bukan saja sebuah kesenian, melainkan juga sumber nilai. Wayang dalam perkembangannya sebagai sumber nilai, menyerap berbagai ajaran tentang penghormatan kepada alam, nenek moyang dan para dewa-dewi. Penghormatan itu dilakukan oleh manusia sebagai keinginan dasar untuk berhubungan dengan kekuatan adikodrati (supranatural), kepemimpinan dan kepahlawanan.Selain itu penghormatan semacam itu dilakukan sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan, dan juga hubungan manusia dengan manusia lain. Kesenian wayang umumnya memuat ajaran keagamaan dan kehidupan. Wayang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan konteks keagamaan dan zamannya. Pada masa penyebaran agama Hindu-Budha dan juga Islam dan Kristen, kesenian wayang selalu dimanfaatkan sebagai media yang popular dan efektif untuk dakwah keagamaan.


Meskipun sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha, kesenian wayang di Jawa mendapat sentuhan kreatif pada masa Islam. Sentuhan itu bukan saja terlihat dalam bentuknya melainkan juga pada tema-temanya. Meskipun begitu, wayang tetap mengandung pakem-pakem cerita utama, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kesenian wayang di Jawa menjadi alas dakwah dan pendidikan paling efektif dan telah diterima masyarakat sehingga tetap hidup dalam berbagai bentuk perkembangannya sampai sekarang. Dari kesenian wayang yang bernafaskan Islam tersebut lahirlah sejumlah jenis wayang antara lain Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Kayu, Wayang Krucil, Wayang Golek, bahkan Wayang Suket.
4. Perabot dan Benda Rumah Tangga
Perabot rumah tangga di Indonesia khususnya di Jawa banyak dipengaruhi gaya Eropa dan muncul pertama kali di kalangan istana. Perabot rumah tangga mulai digunakan di kalangan istana karena pada masa itu Sultan tidak dapat menerima perbedaan yang kontras antara dirinya dengan orang-orang Eropa. Orang Eropa duduk di tempat yang tinggi, seperti kursi atau sofa sedangkan dirinya duduk di lantai atau tikar. Akhirnya Sultanpun mulai menggunakan kursi, terutama di tempat kegiatan, serta saat Sultan dan pegawai belanda muncul bersamaan. Perabot rumah tangga asli didatangkan kalangan istana dan orang-orang Eropa serta dipakai sebagai lambang kebesaran. Pola-pola hiasnya kemudian ditiru oleh para perajin lokal. Hingga sekarang rumah-rumah dan perabotan orang Indonesia banyak mengandung unsur arsitektur yang mencerminkan kebesaran pemerintah Belanda.
Selain kursi, perabot rumah tangga yang lain banyak juga yang disertai hiasan dengan motif gaya Eropa.

5. Batik
Seperti halnya kesenian wayang, batik telah menjadi bagian dari kekayaan seni rupa tradisional di Nusantara, jauh sebelum masuknya Islam. Mitos awal tentang batik sudah ada sejak sekitar taun 700 Masehi. Mitos tersebut bercerita tentang istri Pangeran Jenggala, Lembu Ami Luhur. Dia seorang putrid dari Coromandel. Ia mengajari orang Jawa menenun, membatik dan mewarnai kain. Sejak itu kain batik dengan berbagai motif tertentu menjadi bagian dari identitas busana dan budaya raja, permaisuri dan keluarga istana pada masa kerajaan Hindu. Namun catatan tertulis tentang batik baru muncul pada tahun 1518, di wilayah Galuh di wilayah Barat laut Jawa.
Pada masa Islam batik terus berkembang, terutama dalam kekayaan motif dan arti perlambangannya. Pada masa Islam motif animisme dan Hinduisme yang muncul pada masa kerajaan Hindu diperkaya dengan motif Kaligrafi Arab, Masjid, Kakbah dan permadani. Di samping itu motif Cina sangat kental pada motif batik. Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Sultan Agung, Raja Islam pertam Mataram (1613-1645) memakai batik dengan motif burung Huk. Dalam mitologi Cina, burung Huk melambangkan keberuntungan.
Pada masa Islam dan masa sebelumnya, tradisi batik memang cenderung menjadi bagian dari tradisi istana. Namun dalam perkembangannya, ketika nilai-nilai keistanaan meluntur, nilai-nilai batik menjadi memasyarakat. Batikpun dibuat dan dipakai oleh banyak kalangan. Hasanuddin dalam bukunya yang berjudul Batik Pesisiran menyebutkan bahwa kegiatan membatik didasarkan pada lima motivasi dasar, yaitu:
a. Membatik sebagai kegiatan sambilan wong cilik.
b. Kegiatan membatik sebagai komoditas.
c. Membatik sebagai tradisi kalangan bangsawan.
d. Kegiatan membatik sebagau usaha dagang orang Cina dan Indo-Belanda yang ragam hias dan fungsinya diperuntukan bagi kalangan terbatas.
e. Membatik sebagai kebutuhan seni atau desain dengan konsep kontemporer.
6. Ragam Hias / Pola Wastra
Pada abad ke 18 dan 19, perdagangan batik di Indonesia berkembang pesat. Oleh karena kepesatan tersebut mulailah orang-orang Cina terjun sebagai pedagang batik dalam skala kecil maupun besar. Selain terjun sebagai pengusaha, orang-orang Cina mulai merintis dan membuka peruahaan batik sendiri. Para pekerjanya adalah warga pribumi dengan disiplin kerja yang ketat. Oleh sebab itu mutu batiknya cukup baik
Batik produksi pengusaha Cina cenderung menggunakan warna terang dan beraneka ragam. Pewarna yang digunakan adalah indigosol yang cukup tahan gosokan dan sinar matahari. Ragam hias yang batik yang paling popular adalah burung funiks yang berekor panjang, meander dan swastika. Ragam hias model ini banyak dipakai pada selendang lokcan berbahan sutera.
Perkembangan ragam hias batik Cina dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan selera konsumen. Di daerah Lasem misalnya, ragam hias batik Cina lebih rumit dan datar. Warna yang digunakan antara lain merah, biru, ungu, kuning, dan cokelat. Dalam proses perkembangannya susunan corak, ragam hias, dan warna batik Cina dan pribumi saling mempengaruhi dan melengkapi. Batik yang dibuat di daerah Pantai Utara Laut Jawa menggunakan corak terang, serta memadukan lukisan burung dan bunga. Hal itu jelas menandakan adanya pengaruh Cina. Batik Cirebon juga dikenal karena penggunaan pola ragam hias Cina, yaitu awan dan batu. Pengaruh Cina juga terdapat pada sarung songket yang berbenang emas dari Bali dan Sumatera serta kain perada Bali.

Seni terapan
Kembali pada cerita sebuah keindahan yang keluar dari lubuk hati manusia, ada sebuah kejadian yang sangat membuat kita berpikir kembali, bagaimana jika sebuah kata seni bergabung dengan kata teknologi, apakah akan tetap mempunyai arti keindahan atau malah sebaliknya?
Memang ada kalanya manusia merasa dirinya seperti tidak ingin dikuasai oleh sesuatu yang sifatnya bukan alami tetapi tanpa kita sadari seseorang akan selalu membuka dirinya untuk diracuni oleh barang yang sangat tidak alami malahan kadang kala mereka menjadi lebih berkeinginan untuk menjadi bagian dari barang non alami ini. Lalu apa kira kira yang akan terjadi apabila ternyata manusia tidak menyadari bahwa dirinya sedang terbawa oleh sebuh gejala alam yang tidak alami?
            Sebagian orang merasa bahwa dirinya akan tetap berada dijalur yang benar benar bersifat alami dan tidak akan terbawa oleh arus yang non alami, sebagian lagi merasa dirinya siap siap saja andaikata dia terpaksa harus mengikuti arus non alami itu tetapi sebagian besar manusia malahan cenderung dengan kesadaran penuh melibatkan langsung kedalam gelombang arus yang membawa dirinya kealam non alami ini.
            Nah apabila telah terjadi kelompok yang mempunyai keinginan yang tidak sama terhadap keadaan yang akan membawa mereka kearah yang tidak jelas batas alami dan non alami, apa yang akan terajdi kemudian, akankah manusia kembali kejaman purba dimana alam telah benar benar menjadi bagian dan penentu kehidupan mereka, atau kembali kejaman batu dimana mereka juga mulai mengenal kehidupan yang menjadi biang keladinya sebuah peradaban yang mengarah pada kehidupan non alami, atau malahan mereka tidak akan menoleh sama sekali pada kehidupan alami yang pernah nenek moyang kita jalani?
            Ada sebuah kisah nyata yang menggambarkan betapa kehidupan yang sifatnya alami sangat membuat manusia tidak bahagia dalam arti mereka tidak pernah merasakan bagaimana kebutuhan hidup berkembang dengan baik selain mengandalkan kekayaan alam yang mereka rasakan semakin sulit untuk didapat dan bagi kelompok ini sepertinya dunia terasa sangat sempit. Akan halnya manusia yang mulai membuka diri kepada dunia diluar yang sepertinya bersifat non alami, mereka menemukan begitu luasnya dunia dan begitu banyaknya kesempatan mereka untuk mengembangkan kebutuhan kehidupan mereka dan mereka juga merasa bahwa begitu banyaknya kemudahan yang mereka peroleh dikala sesuatu bahan alam mulai tidak mudah lagi mereka dapatkan.
            Dari sekelumit cerita diatas sebenarnya bukan berarti alam menjadi tidak ramah dan membuat manusia tidak merasa bahagia karena sebenarnya apapun yang manusia lihat didunia ini semuanya bersumber dari alam itu sendiri. Sangarlah tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa dukungan alam lingkungannya.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi apabila manusia akan tetap membutuhkan alam sementara kemajuan berpikir sudah menginjak pada kehidupan yang sepertinya tidak alami?
Apa yang terjadi adalah manusia akan tetap memanfaatkan alam bagi kehidupannya dan dengan kemajuan jaman yang dipelopori oleh para genius, akhirnya mereka menemukan bahwa segala hal yang ada dialam adalah unsur biologis yang dapat diuraikan secara mathematis dan membuat setiap bentuk apapun yang ada dapat diikuti oleh bentuk bentuk terapan yang memadukan unsur seni dan perhitungan sehingga akhirnya manusia tetap menggunakan alam sebagai faktor utama didalam kehidupannya.

Inilah inti dari karya seni terapan dimana manusia memadukan seni dengan perhitungan dan ternyata memang dapat menghasilkan karya karya yang luar biasa dan mempunyai daya guna yang tingga bagi kehidupannya.
Lalu kapan sebenarnya dimulainya pemikiran untuk memadukan kedua unsur ini?
            Kita kembali pada jaman dimana manusia memulai kehidupan dengan sebuah penemuan yang menjelaskan keterkaitan sebuah bidang lurus dengan bidang miring dimana dikenal dengan rumus Phytagoras. Sejak penemuan rumus itu, dimulailah penelitian demi penelitian keterkaitan berbagai macam unsur alam dengan rumusan matematis dimana pada ujung penelitian ditemukan berbagai jenis bentuk bentuk indah yang dapat diuraikan dengan perhitungan rumit. Akhirnya dikenal dengan kata Seni Terapan yang mengacu pada rumus rumus mathematik dengan berbagai bentuk alam yang indah.
Akan halnya penemuan yang lebih modern menggubah segala bentuk bebas menjadi bentuk bentuk geometris dan menjadikannya sebagai patokan untuk bentuk lain yang lebih dinamis namun tetap mengikuti rumus2 yang membuatnya mudah untuk dilaksanakan bahkan dijadikan benda benda monumental yang sangat indah.
            Akhir dari uraian diatas adalah sebuah kesimpulan yaitu tidak ada satupun kehidupan dialam jagat raya yang tidak dapat dijadikan bahan untuk diteliti dan dianalisa yang kemudian dibentuk mengikuti kebutuhan manusia didalam memenuhi keinginan keinginannya untuk berkembang.
Dengan kata lain setinggi tingginya ilmu terapan pada akhirnya akan kembali pada unsur seni karena hal ini merupakan dasar kehidupan manusia.




>Seni terapan ( Aplied Art ) adalah seni yang menjadikan fungsi sebagai tujuan utama dimana kreativitas artistik hanyalah komponen yang melengkapinya .
Contoh :
1.Batik
2.Ornamen pada rumah2 adat
3.Gerabah atau keramik
4.Senjata2 tradisional seperti : keris , rencong , mandau dsb
5.Pakaian2 adat yang ada di nusantara : mulai dari Aceh sampai Papua.
>Pewarna alami untuk 5 warna primer :
Bisa didapat dari daun2an , batu bata , arang , getah .
Tentu saja ada sedikit proses pencampuran untuk mendapat warna yang di inginkan.

No comments:

Post a Comment